Mata uang Merah-Putih sempat berkibar ketika harga minyak mentah light sweet di New York Merchantile Exchange (NYMEX) merosot ke level US$ 125,96 per barel (28/5). Si rupiah berada di level Rp 9.350 per dollar Amerika Serikat (AS) pada awal pekan ini, lantas menguat ke Rp 9.300 per dollar AS pada Rabu (28/5).
Penurunan sedikit harga minyak mentah tersebut terjadi karena adanya indikasi konsumsi bahan bakar minyak (BBM) di AS menurun. Sementara itu, penguatan rupiah tidak terlepas dari peran pemerintah dan Bank Indonesia (BI). Lelang Surat Perbendaharaan Negara (SPN), Zero Coupon Bond seri ZC0004, dan Surat Utang Negara (SUN) seri FR0046, Selasa lalu menyerap dana Rp 8,95 triliun. Adapun lelang Sertifikat Bank Indonesia (SBI) satu bulan, Rabu (28/5), berhasil menyerap likuiditas dari pasar sebesar Rp 46,13 triliun.
Sayangnya, penurunan harga minyak mentah ini tidak bertahan lama. Emas hitam ini melenting lagi ke level US$ 130 sebarel, sehingga rupiah sedikit melemah ke level Rp 9.320 per dollar AS pada Kamis (29/5) siang. “Tidak ada yang menjamin minyak tidak akan bergejolak lagi,” kata Dirketur Currency Management Farial Anwar. Ditambah lagi tekanan inflasi yang bakal mencapai dua digit akibat kenaikan harga BBM.
Kepala Riset Tresuri Bank BNI Rosadi TA Montol dan dealer valas Bank Rakyat Indonesia Rachmat Wibisonomengamini pernyataan Farial. “Rupiah pasti melemah lagi. Kita tinggal menunggu langkah BI menjaga rupiah dengan menaikkan BI rate,” kata Rosady.
Pasar memperkirakan BI bakal mendongkrak BI rate sehingga sebesar 50 basis point (bps) menjadi 8,75% pada rapat Dewan Gubernur BI bulan depan. Rachmat menambahkan langkah BI itu bakal sedikit meringankan tekanan ke rupiah.
pekan depan, Farial meramal rupiah bakal menembus level Rp 9.400-Rp 9.500 per dollar AS. Tapi, Rosady lebih optimistis. Dia memprediksi kurs rupiah masih bisa bertahan di level Rp 9.350 per dollar AS.(#)